Sejarah Singkat Yayasan Al Muhajirin Seloto - Sumbawa Kini

Breaking News

Home Top Ad

Space Available (1170 x 250)

Rabu, 17 Mei 2017

Sejarah Singkat Yayasan Al Muhajirin Seloto


Siswa MTs Al-Muhajirin Seloto Taliwang

Desa Seloto, kecamatan Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak dulu dikenal sebagai desa yang agamis dan Islami. Di desa ini, sejak tahun 1978, berdiri Pondok Pesantren (Ponpes) yang diberi nama Al-Manar. Ponpes inilah  yang sampai kini menjadi ikon desa tersebut.                              

Oleh Mujahiddin Dhevan

Berdiri pada tahun 1978, Pondok Al Muhajirin Seloto,  menjadi salah satu pondok pesantren tertua di pulau Sumbawa. Pondok tersebut di dirikan secara swadaya oleh para jamaah Muhammadiyah ranting Seloto sebagai tempat belajar ilmu agama. 

Ditengah perjalanannya, pada tahun 1999,  sempat terjadi perbedaan pendapat yang tajam antara jamaah Muhammadiyah yang berujung pada pengunduran diri Ustad Syahabuddin Siraj, pimpinan ranting Muhammadiyah Taliwang yang juga pimpinan pondok pesantren Al-Manar pada saat itu. 
 
Peran sentral seorang tokoh kharismatik inilah yang menjadi benih berdirinya Yayasan Pendidikan Al-Muhajirin, dimana jamaah Muhammadiyah dan masyarakat Seloto pada umumnya sangat mendukung dan simpati pada perjuangan Ustad Syahabuddin.  

Awalnya lembaga ini bernama Yayasan Pendidikan Islam Al-Manar atau disingkat (Yapiam) dibawah pimpinan Ustad Syahabuddin Siraj, dimana nama tersebut di ambil dari nama pondok pesantren Al-Manar yang beliau pimpin sebelumnya.

Yapiam berdiri di atas tanah wakaf seluas kurang lebih  satu hektar yang diwakafkan oleh ustaz Syahabuddin Siraj dan keluarganya.

Pada awalnya, yayasan ini hanya bergerak pada pendidikan non pormal seperti pengajian,TPQ PKBM paket A dan paket B yang diperuntukan bagi  masyarakat desa Seloto dan kegiatan dakwah lainnya.

Saat itu, Ustad Syahabuddin Siraj tergerak hatinya setelah melihat banyaknya anak-anak desa Seloto yang putus sekolah,  karena orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya. 

Keinginan melihat anak-anak desa Seloto tetap bersekolah dan mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggilah, yang menginspirasi Ustad Syahabudin mendirikan lembaga formal,  dengan tujuan untuk menampung anak-anak putus yang sekolah terutama dari keluarga kurang mampu. 

Komunikasi yang baik dan intens dengan pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa (Saat itu kecamatan Taliwang masih menjadi bagian kabupaten Sumbawa),   dan didukung oleh Madrasah Tsanawiah Negeri (MTsN)  Taliwang yang dipimpin oleh ustaz Drs.M.Nur Yasin,  menjadi tempat bernaung atau sebagai penjamin selama proses izin operasional sekolah belum dikeluarkan oleh pihak terkait.

Pada tahun 2004, MTs YAPIAM resmi berdiri dengan status kelas dari jauh MTs Negeri Taliwang,  dimana  khairuddin,S.Pd.i. menjadi kepala sekolah.

Dengan beberapa pertimbangan dan hasil musyawarah bersama, beberapa tahun berikutnya, tepatnya tahun  2006, Yapiam (Yang menjadi payung lembaga pendidikan tersebut), berganti nama menjadi Yayasan Al-Muhajirin Satata. 

Lembaga ini dipimpin oleh Ustaz Syahabuddin Siraj dan  Hasbullah Damhuji sebagai sekretarisnya. Hasbullah Damhuji yang merupakan kader muda, oleh Ustad Syahabuddin sengaja dijadikan sekretaris  mengingat usia Ustad Syahabuddin Siraj sudah mulai uzur.

Konon kabarnya, nama Al-Muhajirin di ambil dari nama kaum Muhajirin yang pindah dari mekkah ke Madinah dan kata 'Satata' diambil dari nama bukit dimana yayasan ini berdiri dilokasi dekat bukit Satata. 

Dalam perjalanannya, banyak aral rintangan yang di hadapi oleh pengurus. Selain kekurangan dana,   perseteruan pengurus juga menjadi bagian dari sejarah terbentuknya lembaga ini.

Pada saat itu,  pemerintah belum begitu peduli dengan lembaga pendidikan swasta. Hampir tidak ada kucuran bantuan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Seiring berjalannya waktu, Ketika usia pendidikan mencapai tiga tahun,  di mana pihak Yayasan harus menguras tenaga dan fikiran bagaimana menampung siswa siswi angkatan pertama sampai ke jenjang berikutnya, agar tidak ada lagi yang putus sekolah.

Atas kerja keras pengurus, para jamaah dan tenaga pendidik serta support yang kuat dari masyarakat Seloto, pada tahun 2006 SMA AL-Muhajirin resmi  menjadi SMA Muhammadiyah,  (sebagai tempat bernaung  selama izin operasional belum di keluarkan oleh pihak terkait).

Pada Juli 2011,  Ustaz Syahabuddin Siraj meninggal dunia. Oleh pengurus Yayasan, dan para Jamaah menyerahkan kepemimpinan Yayasan ini kepada Ustaz Syarifuddin S.sos.i yang merupakan keponakan dari Ustad Syahabuddin Siraj.

Atas kerja keras semua elemen masyarakat desa Seloto, pengurus Yayasan dan para Jamaah,  Al-Muhajirin semakin maju dan memiliki segudang prestasi.   Oleh masyarakat desa Seloto, Al-Muhajirin hingga kini dijadikan ikon ,  'Seloto desa Agamis dan Islami'.

Ada beberapa lembaga pendidikan yang dinaungi oleh Yayasan Al-Muhajirin saat ini mulai dari jenjang MTs, hingga SMA AL-Muhajirin.  Yayasan ini juga memiliki Tempat Pendidikan Al'Quran yang diberi nama TPQ Al-Muhajirin, dan mulai tahun ajaran 2017-2018 mendatang, di Pondok Pesantren ini akan dibuka  jurusan Tahfiz  Al'Quran dengan nama Tahfiz Al-Muhajirin. (dev)
Ruang Belajar Yayasan Al-Muhajirin Seloto

Sumber sekretaris Yayasan Al-Muhajirin Seloto Hasbullah Damhuji. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi SUMBAWA KINI menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di www.sumbawakini.com . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi SUMBAWA KINI akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.sumbawakini.com