PTAMNT Dituding Ciptakan Sejarah Buruk Pengelolaan Tambang Batu Hijau - Sumbawa Kini

Breaking News

Home Top Ad

Space Available (1170 x 250)

Selasa, 14 Februari 2017

PTAMNT Dituding Ciptakan Sejarah Buruk Pengelolaan Tambang Batu Hijau


Ikan, udang dan kepiting yang ditemukan
mati di sungai dan pantai Desa Tongo 
Sumbawa Barat (SumbawaKini) - Kasus meluapnya air asam tambang di Dam Santong 3 dan Dam Tongo Loka di tambang Batu Hijau yang mengalir masuk ke sungai sungai Tongoloka dan Sungai Sejorong, Desa Tongo Kecamatan Sekongkang, menjadi isu hangat yang diperbincangkan berbagai kalangan di Sumbawa Barat.

PTAMNT sebagai perusahaan nasional yang baru beberapa bulan resmi menjadi operator, dituding tidak profesional dan telah menciptakan sejarah buruk dalam operasional tambang Batu Hijau di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. 

"Ini sejarah buruk dan mencerminkan pengelolaan yang tidak professional di tambang Batu Hijau. Kasus ini merupakan pelanggaran terhadap Undang - Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup," ujar Direktur Yayasan Serikat Tani Pembangunan (YSTP) Sumbawa Barat, Iwan Irawan.

Kasus dugaan pencemaran oleh air asam tambang PTAMNT ini juga menjadi perbincangan hangat di lini massa. Para netizen menganggap persoalan ini sangat serius dan harus segera disikapi oleh stake holder terkait dan PTAMNT mesti bertanggungjawab secara hukum maupun sosial kepada masyarakat.

"Dalam dunia pertambangan manapun didunia, sebagai salah satu syarat tambang mendapatkan ijin adalah menjaga dan menyelamatkan lingkungan. Tidak ada tawar menawar.  Jika perusahaan tambang mengalami kerusakan terhadap lingkungan maka itu masuk dalam kejadian luar biasa. Tambang Batu Hijau kalau tidak salah sudah enam kali mendapat Proper Hijau (penghargaan tertinggi dalam hal pengelolaan lingkungan oleh perusahaan tambang) dari Kemen LH dan diakui sebagai salah satu perushaan yang paling aman lingkungan mengelola wilayah tambangnya. Jika hari ini kejadian tersebut terjadi maka sangat diragukan komitmen perusahaan tersebut (PTAMNT). Dan layak Kementrian LH utk mengevaluasi kembali proper hijau maupun komitmen perusahaan ini. Ini bukan soal sudah ganti manajemen tapi menyangkut tanggungjawab perusahaan ini sendiri sebagai perusahaan dunia," tulis Benny Tanaya, Direktur Solidarity Centre Sumbawa Barat, mengomentari postingan tentang kasus air asam tambang itu di lini masa face book.

Di postingan itu juga mencuat tentang kemungkinan unsur kelalaian PTAMNT dalam mengantisipasi terjadinya peristiwa tersebut. Anggota DPRD Sumbawa Barat, Syamsuddin Ilung, yang juga mantan karyawan PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT - sebelum menjadi PTAMNT), menulis "Apa bila air dari Santong Dam 3 meluap atau ketinggian elepasi naik, biasanya dari departement Environtment sudah melakukan persiapan yaitu menyediakan kapur dan alat berat di spillway dam untuk dituangkan ke dalam air yang mengandung asam dengan tujuan agar kandungan asam bisa dinetralkan agar sungai yang mengalir ke sungai Tongo dan Sejorong tidak tercemar dan habitat yg ada di dalam sungai tidak mati begitu juga ternak yang meminum air sungai tidak terkena dampak dari percemaran tersebut,".

Kunjungan Komisi III DPRD KSB di Tongo
"Saya yakin itu tidak dilakukan karena biasanya digunakan beberapa kontainer kapur dan alat berat untuk memasukan kapur ke outlet Santong Dam sebelum masuk ke sungai rakyat yang mengalir (ke) Desa Tongo," tulis Syamsuddin Ilung, menjawab dugaan tentang adanya unsur kelalaian yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut. 

Sebagian netizen lainnya mendorong agar pihak terkait segera mencari solusi atas persoalan ini. Ada pula yang mendorong agar kalangan pegiat lingkungan hidup di Sumbawa Barat segera membawa kasus tersebut ke ranah hukum. 

Sementara itu, Komisi III DPRD Sumbawa Barat, Selasa pagi telah turun langsung ke Desa Tongo untuk mengecek langsung kondisi Dam Santong dan Tongoloka serta sungai dan perairan di sekitar desa tersebut yang diduga telah tercemar akibat luapan air asam tambang. 
Sampai berita ini ditulis belum diketahui hasil dari kunjungan komisi yang membidangi masalah pertambangan dan lingkungan hidup itu.

Seperti diberitakan SumbawaKini, masyarakat desa Tongo Kecamatan Sekongkang beberapa hari lalu menemukan ikan, udang dan kepiting mati di sungai dan pantai sekitar desa tersebut. Kematian biota air itu diduga kuat akibat keracunan air asam tambang PTAMNT yang meluap dari Dam Santong dan Tongoloka yang terletak dihulu sungai Sejorong dan Sungai Tongoloka yang bermuara ke perairan selatan Sumbawa Barat. 

Management PTAMNT sendiri telah mengakui perihal meluapnya air asam tambang dari dua dam penampung itu yang mengalir masuk ke sungai Tongo dan Sejorong. PTAMNT berdalih kondisi itu disebabkan curah hujan yang tinggi yang menjadi penyebabnya.(EZ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi SUMBAWA KINI menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di www.sumbawakini.com . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi SUMBAWA KINI akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.sumbawakini.com