Petani Rumput Laut Resah Akibat Dugaan Pencemaran Tambang PTAMNT - Sumbawa Kini

Breaking News

Home Top Ad

Space Available (1170 x 250)

Sabtu, 18 Februari 2017

Petani Rumput Laut Resah Akibat Dugaan Pencemaran Tambang PTAMNT



Sumbawa Barat (SumbawaKini) - Bukan hanya nelayan yang resah akibat kasus dugaan pencemaran akibat meluapnya air asam tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) di Dam Santong 3 dan Tongoloka. Para petani rumput laut di desa Kertasari Kecamatan Taliwang juga mengalami keresahan serupa. 

Tokoh masyarakat Kertasari,Andi Laweng, mengatakan, para petani sejak beberapa hari terakhir resah akibat menyebarnya kabar mengenai dugaan pencemaran oleh air asam tambang PTAMNT yang masuk ke sungai dan mengalir ke laut.

"Kekhawatiran itu muncul karena faktanya masyarakat di Tongo juga menemukan ikan mati di pantai laut selatan selain di sungai. Ini yang dikhawatirkan petani rumput laut, bisa jadi pencemaran di perairan sekitar tongo  menyebar karena terbawa arus ke wilayah-wilayah lain termasuk Kertasari dan berimbas pada rumput laut," urai Andi Laweng.

Andi Laweng
Tokoh masyarakat yang juga Ketua DPW Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Indonesia dan menjabat sebagai Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPRD Sumbawa Barat itu menyesalkan kejadian meluapnya air asam tambang itu. Ia mempertanyakan Standar Operasional Prosedure (SOP) yang diterapkan PTAMNT dalam hal penanganan air asam tambang, khususnya dalam kondisi cuaca ekstreem dan curah hujan sangat tinggi. 

Menurutnya, dari hasil inspeksi lapangan yang dilakukan Komisi III DPRD setempat ke Desa Tongo ditemukan adanya unsur kelalaian dari pihak management PTAMNT sehingga air asam tambang meluap ke sungai.

"Adanya unsur kelalaian ini yang harus diusut tuntas. Saya mendukung DPRD maupun pihak-pihak lainnya yang concern dibidang lingkungan hidup untuk membawa kasus ini ke ranah hukum, karena ada dugaan PTAMNT telah melanggar undang-undang Nomor 32 Tahun 2009," cetusnya.

Ia mengungkapkan, sejak beberapa bulan terakhir, para petani rumput laut telah menderita akibat serangan penyakit yang menyebabkan kematian dini tanaman mereka. Kondisi itu menyebabkan produksi menurun drastis dan petani mesti mengeluarkan biaya lebih besar karena harus menanam ulang.  

"Kalau kondisi ini diperparah lagi dengan pencemaran, tentu para petani akan lebih menderita. Karena itu saya menuntut tanggungjawab PTAMNT terkait masalah ini," tandasnya.

Seperti diberitakan, PTAMNT melalui keterangan resmi yang diterima SumbawaKini, minggu (12/2), mengakui terjadinya luapan air asam tambang dari dam Santong dan Tongoloka yang mengalir ke sungai Sejorong dan Tongoloka.  PTAMNT berdalih kejadian itu disebabkan tingginya intensitas hujan dalam beberapa minggu terakhir yang menyebabkan banjir termasuk di Proyek Batu Hijau sehingga air di struktur pengendali sedimen Santong dan Tongoloka mengalami peningkatan lebih dari biasanya.

Sejak kejadian itu, warga desa Tongo dan Tim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbawa Barat menemukan ikan, udang dan kepiting yang mati di aliran sungai dan pantai sekitar Desa Tongo.(EZ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi SUMBAWA KINI menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di www.sumbawakini.com . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi SUMBAWA KINI akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.sumbawakini.com