Nelayan Resah Akibat Kasus Dugaan Pencemaran Air Asam Tambang PTAMNT - Sumbawa Kini

Breaking News

Home Top Ad

Space Available (1170 x 250)

Jumat, 17 Februari 2017

Nelayan Resah Akibat Kasus Dugaan Pencemaran Air Asam Tambang PTAMNT

Ikan yang ditemukan mati di sungai oleh masyarakat Desa Tongo

Sumbawa Barat (SumbawaKini) - Kasus meluapnya air asam tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) di Dam Santong 3 dan Dam Tongoloka ke aliran sungai Sejorong dan sungai Tongo Loka Desa Tongo, Kecamatan Sekongkang Sumbawa Barat, minggu lalu, menimbulkan kekhawatiran dan keresahan para nelayan desa Labuhan Lalar, Kecamatan Taliwang.

Nasruddin AF, tokoh masyarakat Labuhan Lalar, mengatakan, para nelayan di desa tersebut selama ini menjadikan wilayah pantai selatan, termasuk perairan sekitar Tongo, SP1 sampai SP4 sebagai lokasi melaut. Mereka biasanya menetap beberapa hari diperairan tersebut untuk menangkap ikan (memancing). 

Nasruddin AF
"Tapi sejak kasus meluapnya air asam tambang PTAMNT, para nelayan di desa kami tidak berani turun melaut kesana. Apalagi sebelumnya masyarakat telah menemukan ikan, udang dan kepiting mati di sungai dan pantai sekitar desa Tongo," ungkap Nasruddin. 

Para nelayan, kata Nasruddin, menganggap persoalan ini sebagai masalah yang sangat serius, karena menimbulkan pengaruh langsung terhadap hajat hidup mereka sebagai nelayan. Apalagi sejak kasus itu terjadi, belum pernah ada penjelasan resmi dan hasil dari kajian tekhnis yang dilakukan terhadap kondisi air disekitar perairan selatan, baik dari PTAMNT sebagai pihak yang paling bertanggungjawab maupun dari pemerintah. 

"Yang kami tahu pasti adalah benar telah terjadi luapan air asam tambang ke sungai yang bermuara ke laut selatan dan masyarakat menemukan ikan yang mati. Yang perlu dipahami PTAMNT maupun pemerintah, bukan hanya masyarakat Tongo dan sekitarnya yang merasakan dampak dari kasus ini, tetapi kami sebagai nelayan juga merasakan. Ketika wilayah tangkap terganggu maka otomatis seluruh hajat hidup kami sebagai nelayan juga terganggu," bebernya.

Karena itu Nasruddin atas nama nelayan mendesak PTAMNT untuk berhati-hati dalam pengelolaan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan dan segera memberi penjelasan rinci kepada masyarakat tentang penyebab, langkah penanganan dan imbas dari kejadian meluapnya air asam tambang tersebut, termasuk terhadap kondisi perairan yang selama ini menjadi wilayah tangkap nelayan. 

"Ini penting sebagai bentuk tanggungjawab moral dan sosial PTAMNT kepada masyarakat atas kelalaian yang menyebabkan peristiwa itu terjadi," cetus Nasruddin.

Sementara itu, Pemerintah Daerah Sumbawa Barat, telah memanggil management PTAMNT pada Rabu (15/2) lalu untuk dimintai klarifikasi atas kasus dugaan pencemaran air asam tambang itu. 

"Dalam pertemuan, Pak Bupati meminta agar PTAMNT segera mensosialisasikan kepada masyarakat mengapa air asam tambang tersebut bisa meluap agar tidak ada lagi informasi miring terkait hal itu," kata Kabag Humas Pemda Sumbawa Barat, Abdul Muis, kepada SumbawaKini usai pertemuan. 

Hal senada juga dikatakan Manager Social Responsibility (SR) PTAMNT, Kasan Mulyono. 

"Pak Bupati meminta kami bertemu dengan masyarakat dan menjelaskan secara rinci mengapa ini bisa terjadi," ujar Kasan.

Kasan juga menjelaskan bahwa PTAMNT telah melaksanakan langkah penanganan sesuai Standart Operasional Prosedure (SOP) terkait persoalan tersebut.(EZ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi SUMBAWA KINI menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di www.sumbawakini.com . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi SUMBAWA KINI akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.sumbawakini.com