Air Asam Tambang Meluap, Proper Hijau PTAMNT Terancam Dicabut - Sumbawa Kini

Breaking News

Home Top Ad

Space Available (1170 x 250)

Rabu, 22 Februari 2017

Air Asam Tambang Meluap, Proper Hijau PTAMNT Terancam Dicabut

Biota yang ditemukan mati di sungai
dan pantai Desa Tongo
Jakarta (SumbawaKini) - Kasus dugaan pencemaran air asam tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) berbuntut panjang.

Bukan hanya terancam gugatan pidana dan perdata, penghargaan bidang pengelolaan lingkungan hidup (Proper Hijau) yang telah diterima enam kali oleh perusahaan tambang yang berlokasi di Batu Hijau Kecamatan Sekongkang itu, juga terancam dicabut.

Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (Kemenhut LH) telah meminta kepada DPRD Sumbawa Barat melalui Komisi III untuk segera bersurat kepada kementerian terkait untuk pencabutan penghargaan tersebut.

"Salah satu hasil pertemuan kami pagi ini, DPRD diminta untuk bersurat ke Kemenhut LH untuk mencabut proper hijau PTAMNT," ujar Ketua Komisi III DPRD KSB, Dinata Putrawan, kepada SumbawaKini usai pertemuan dengan pejabat Kemenhut LH, Rabu (22/2).

Komisi III usai pertemuan di Kemenhut LH
Dinata memastikan Komisi III akan segera meminta kepada Pimpinan DPRD untuk melaksanakan rekomendasi tersebut.

"Laporan dan bukti tentang terjadinya pencemaran dari masyarakat serta hasil inspeksi lapangan yang telah dua kali dilakukan Komisi III, kami kira menjadi dasar yang kuat bagi Kemenhut LH mencabut proper hijau PTAMNT," timpal Dinata.

Komisinyang membidangi masalah pertambangan dan lingkungan hidup itu juga memastikan proses hukum baik secara pidana maupun perdata terkait kasus dugaan pencemaran itu.

"Rekomendasi dari Kemenhut LH hari ini semakin memantapkan sikap Komisi III untuk membawa persoalan ini ke proses hukum," ujar Wakil Ketua Komisi III Amiruddin Embeng.

Politisi yang juga ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sumbawa Barat itu menegaskan, proses hukum penting dilakukan agar ada efect jera fan sebagai pembelajaran agar kedepan kasus seperti ini tidak terulang dan PTAMNT menjadi lebih bertanggungjawab dalam hal pengelolaan limbah di tambang Batu Hijau.

"Kasus ini telah menimbulkan keresahan masyarakat di wilayah lingkar tambang juga masyarakat di pesisir lainnya. Temuan ikan dan biota lain yang mati adalah indikasi kuat telah terjadinya pelanggaran undang-undang lingkungan hidup oleh PTAMNT," beber Embeng, diamini oleh pimpinan dan anggota Komisi III lainnya.

Seperti diketahui PT Newmont Nusa Tenggara (sebelum menjadi PTAMNT) telah enam kali berturut-turun mendapatkan penghargaan Proper dari Kementerian Lingkungan Hidup. Terakhir perusahaan itu meraih Proper Hijau pada tahun 2011. 

Ada lima peringkat yang ditetapkan dalam penilaian Proper, yakni Emas, Hijau, Biru, Merah dan Hitam. Peringkat hijau berarti suatu perusahaan telah melakukan upaya pengendalian kemungkinan pencemaran dalam melindungi lingkungan dan kinerja perusahaan tersebut telah sesuai bahkan lebih baik dari peraturan yang berlaku.(EZ)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi SUMBAWA KINI menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di www.sumbawakini.com . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi SUMBAWA KINI akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.sumbawakini.com