'Membayangkan Para Nabi Berduka' - Sumbawa Kini

Breaking News

Home Top Ad

Space Available (1170 x 250)

Rabu, 16 November 2016

'Membayangkan Para Nabi Berduka'




Saya membayangkan para nabi dari abad-abad yang lampau. Juga berbagai ikhtiar mereka menyeru umat manusia untuk kembali menuju jalan kebaikan. Ikhtiar tersebut kini masih bergema, meski rasanya semakin sayup.


Dan kemudian muncul pertanyaan: apakah agama yang menjadikan seseorang baik, atau karena berpembawaan baik, maka seseorang beragama? Tentu ini tak sama dengan pertanyaan soal adakah manusia pada dasarnya baik atau buruk. Sebab, dalam dirinya manusia membawa kebaikan dan keburukan masing-masing.

Namun, jika mengingat bagaimana para nabi menjalani hidup, tampak jelas bahwa mereka adalah orang yang sanggup mengatasi keburukan dalam dirinya dengan kebaikan bagi semesta. 

Rasanya Ibrahim menentang Raja Namrudz bukan semata karena alasan teologis ketuhanan yang maha esa. Melainkan dengan diiringi keyakinan bahwa setiap manusia setara. Tidak ada manusia yang lebih tinggi, apalagi mendaku diri sebagai Tuhan sehingga patut disembah, atau yang lebih rendah sampai perlu menyembah manusia lainnya. Ya, semacam kemanusiaan yang adil dan beradab.
Maka pertanyaan selanjutnya, mengapa para pemeluk agama kerap bertikai demikian gaduh, bahkan hingga menumpahkan darah? Apakah mereka begitu mencintai agamanya sehingga tidak akan membiarkannya ternoda sedikit pun? Ataukah mereka sekadar mencintai dirinya, dengan gagasan menjadi pembela agama yang disegani sepanjang hayat?

Mungkin, setidaknya menurut saya, pertikaian kerap terjadi karena sekarang kita beragama dengan harapan dapat mengatasi keburukan semesta dengan kebaikan bagi diri sendiri. Agama dipandang sebagai jalan pintas dan panduan praktis demi mencapai ambisi pribadi, entah yang duniawi maupun surgawi, di tengah karut-marut dunia. 

Padahal para nabi sudah selalu mengajarkan, tidak ada yang namanya diri sendiri dalam agama. Kita senantiasa terikat kepada orang lain, umat. Sebelas-dua belas dengan persatuan Indonesia. Dan membaca buku Satu Dekade Rumpun Terasing karya Nurhikmah, yang memotret nasib anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai pengungsi di kampung halaman sendiri, saya mendapati kontradiksi keberagamaan kita demikian nyata.

Sebab, lapisan utama dalam sikap keberagamaan kita diisi oleh diri sendiri, diri sendiri, dan diri sendiri. Baru kemudian oleh orang lain, itu pun yang sehaluan. Sedangkan yang berbeda, boleh dibiarkan hidup berkalang derita, apalagi jika menolak cara hidup kita. Mungkin ini pula penjelasan mengapa umat beragama tak pernah mengusir koruptor dari rumahnya (yang kemungkinan besar hasil korupsi), sementara yang lain didesak dari segala penjuru agar kembali pada “jalan yang benar”, jika ingin kembali diterima di tengah masyarakat.

Jelas tak ada kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan di sini. Hanya ada aksi sepihak. Dan di luar ego para pemeluk agama, berlaku kesewenangan kekuasaan politik yang melanggengkan aksi sepihak itu. 
Sebagaimana disebutkan Okky Madasari dalam pengantar Satu Dekade Rumpun Terasing, 

“Kekuasaan dan kekuatan politik merupakan kekuatan kunci untuk menghentikan ketidakadilan ini…. Tapi… di berbagai belahan tempat di dunia, kita justru melihat bagaimana kekuasaan dan kekuatan politik justru menjadi sumber segala ketidakadilan dan kekerasan ini.”.

Toh, dalam hemat saya, para pelaku kekuasaan dan kekuatan politik ini bukan “takut” atau “tidak berdaya” dalam menegakkan keadilan. Sebaliknya, mereka sengaja menciptakan ketimpangan, memelihara kontradiksi, demi mempertahankan kekuasaan. Sebab, jika keadilan sepenuhnya ditegakkan, mustahil mereka masih bisa menikmati tampuk kuasa. 

Bagaimana hal ini bisa terjadi dan dibiarkan begitu saja? Bukankah setiap pemeluk agama diajarkan untuk melawan ketidakadilan? Nurhikmah, dalam bukunya, mengajukan praktik hegemoni dan represi alam bawah sadar sebagai jawaban. Jadi, ada pengaruh dominan kekuasan dan penindasan terhadap mereka yang berbeda, dengan segenap pembiaran atas nasibnya kecuali mereka mau patuh menyamakan diri dengan lain.

Ya, kita hidup di zaman ketika perbedaan menjadi sebuah kesalahan, dan bisa dihukum melampaui ketentuan peraturan yang berlaku. Kan, tidak ada hukum yang menyebutkan bahwa mereka yang punya sikap atau pandangan berbeda harus diungsikan. Tapi persis seperti itulah yang terjadi.

Definisi sesat, kafir, nista dipahami semata dari satu perspektif: kekuasaan. Namun sekali lagi menurut saya, yang terjadi di sini bukan sekadar hegemoni dan represi. Melainkan keburukan yang meraja dan dilakukan atas nama agama agar tidak tampak terlalu buruk. Agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tidak pernah terwujud.

Mungkin kita, para pemeluk agama hari ini, gagal mengatasi keburukan sekaligus berhasil menutupi keburukan itu dengan agama, supaya semua tampak baik-baik saja, setidaknya di mata kita. 

Mau bagaimana lagi, kenyataan tampak begitu murung. Dan kitalah yang membuatnya demikian. Toh, ada yang menarik dari buku Satu Dekade Rumpun Terasing. Yakni surat-surat dari anggota JAT yang paling tidak bisa membuat kita sedikit-banyak memahami apa yang sesungguhnya mereka pikirkan dan rasakan.

Syahidin, misalnya, dengan sederhana menuliskan, “Kami hanya ingin hidup tenang dengan kebebasan yang sama seperti diberikan kepada warga negara lainnya.” Tentu sama sekali tidak ada yang salah dengan keinginan ini. Menghalangi orang lain untuk hidup tenang sama saja dengan bersikap lalim. Dan saya tak tahu ada agama yang mengajarkan kelaliman. 

Ah, saya jadi membayangkan para nabi kini berduka, merasa gagal dan nestapa. 
Semoga saya keliru.[]Satya Wibisana

Judul: Satu Dekade Rumpun Terasing (Narasi Identitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia)
Penulis: Nurhikmah
Penerbit: Makar 
Cetakan: Pertama, Oktober 2016
Tebal: xiv + 174 hlm; 14 x 18 cm
ISBN: 978-602-7381-81-0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi SUMBAWA KINI menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di www.sumbawakini.com . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi SUMBAWA KINI akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.sumbawakini.com