Alat Musik Suku Aborigin, Eartship dan Bule Portugal Pemungut Sampah di Kenawa - Sumbawa Kini

Breaking News

Home Top Ad

Space Available (1170 x 250)

Rabu, 16 November 2016

Alat Musik Suku Aborigin, Eartship dan Bule Portugal Pemungut Sampah di Kenawa




Datang dari negeri yang jauh ke suatu negara dan mengunjungi pulau terpencil, lalu berkeliling di seluruh pulau tersebut memungut sampah, bagi sebagian orang mungkin dianggap gila atau kurang kerjaan. Tapi bagi Jose (40) warga Negara Portugal, hal itu bukan sekedar kesenangan, namun sebuah kewajiban untuk bumi yang sehat, indah dan bersih. Cerita Jose, hanya salah satu dari sekian banyak cerita yang akan terjadi di Pulau Kenawa dalam kurun waktu dua bulan kedepan.

***

Floyd dan Aji Jaya, dua seniman beda bangsa
Lengkingan suara serune (serunai), alat musik khas Tana Samawa yang ditiup Aji Jaya (seniman lokal KSB) mengalun dinamis berpadu dengan nada rendah dari sebuah didgeridoo alat musik khas suku Aborigin, penduduk asli yang bermukim di bagian utara benua Australia yang dimainkan Floyd. Aksi yang dipertontonkan dua seniman beda bangsa itu, sedikit membuat pengunjung lupa akan teriknya sinar matahari yang menebar panas hingga 34 derajat celcius di pulau Kenawa, Kecamatan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Didgeridoo berbentuk bulat panjang (sekitar 1,2 sampai 1,5 meter) dengan pangkal berukuran kecil dan besar dibagian ujung. Umumnya didgeridoo terbuat dari kayu jenis khusus yang dibentuk dan dilubangi sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada ketika ditiup. Semakin panjang ukurannya, semakin rendah nada yang dihasilkan.

Floyd (37), si peniup didgerido, adalah lelaki berkulit putih kemerahan, brewokan, dengan topi adventure, kaos singlet hitam, celana cargo poket, lengkap dengan sepatu boot. Floyd adalah seorang arsitek sekaligus seniman berkebangsaan Australia yang menjadi salah satu dari 60 peserta ground breaking eartship yang sedang berlangsung di pulau itu sampai dua bulan kedepan.

Hadirin bertepuk tangan gemuruh ketika satu sesi ngejams selesai. Beberapa diantaranya, termasuk saya, lalu merayu Floyd dan Aji Jaya untuk mengulang satu sesi lagi. Lagi-lagi cuaca panas seperti tak terasa. Harmonisasi nada yang tercipta dari dua alat musik tradisional sejenis tapi dari benua, negara dan suku berbeda itu, sungguh sangat indah. Tepuk tangan bergemuruh, kembali diberikan hadirin untuk Floyd dan Aji Jaya diakhir sesi kedua yang mereka mainkan.

Mike Reynolds, Bupati, Wabup dan Pimpinan DPRD KSB
Siang itu, Senin (14 Nopember 2016), rombongan bupati, HW Musyafirin, wakil bupati Fud Syaifuddin dan sejumlah pejabat Pemda Sumbawa Barat, didampingi para petinggi PT Eco Solution Lombok (PTESL), perusahaan pemegang ijin pengelolaan Gili Balu ‘ (gugusan delapan pulau kecil di Selat Alas, termasuk Kenawa), memang sengaja berkunjung ke pulau yang hanya berjarak 15 menit dari Pelabuhan Poto Tano. Bupati siang itu membuka kegiatan pelatihan (ground breaking) eartship (bangunan ramah lingkungan) yang diikuti puluhan orang arsitek terbaik dari seluruh dunia, dipimpin oleh Michael E. Reynolds (Mike Reynolds).

Kegiatan hari itu memang penting. Bupati menyatakan, disamping sebagai langkah awal dimulainya pengelolaan dan pembangunan Gili Balu sebagai kawasan eco wisata terpadu, kehadiran puluhan arsitek dari seluruh dunia, juga dimanfaatkan Pemerintah Daerah sebagai ajang mempromosikan Pulau Kenawa ke dunia internasional. Apalagi, Mike Reynolds, konsultan arsitektur berkebangsaan Meksiko yang menjadi mentor dalam kegiatan itu, merupakan konsultan arsitektur terbaik dunia di bidang infrastruktur ramah lingkungan dan energi terbarukan.

Mendapatkan kesediaan tokoh sekaliber Mike untuk datang dengan mengajak serta puluhan kolega-nya dari berbagai negara ke sebuah pulau di salah satu kabupaten yang terletak di ‘sudut’ Indonesia, tentu sebuah kesempatan langka. Kedatangan kali ini merupakan yang kedua bagi Mike. Ia mengaku jatuh cinta terhadap Kenawa sejak pertama kali menginjakkan kaki di pulau dengan luas sekitar 46 hektar itu. Alasan itu pula yang membuatnya menerima permintaan ESL untuk melaksanakan ground breaking di Kenawa..

Gambar eartship yang akan dibangun di Kenawa
Anggota tim yang dipimpin Mike berasal dari Amerika Serikat, Australia, Inggris, Spanyol, Italia, Rusia, Qatar, Arab Saudi, Portugal dan Meksiko. Mereka tinggal dalam kemah-kemah mungil sederhana yang didirikan tidak beraturan disekitar pulau. Fasilitas akomodasi di Pulau Kenawa memang masih sangat terbatas. Hanya ada dua rumah panggung sederhana milik warga yang berjualan di pulau itu. Ada juga beberapa gazebo berukuran sedang dan kamar mandi umum, dimana pengunjung kadang harus membawa air sendiri ketika ingin menggunakannya.

Selama berada di Kenawa, Mike dan puluhan anggota tim nya akan membangun sebuah bangunan ramah lingkungan dengan bahan baku 90 persen merupakan bahan bekas, seperti ban mobil, botol plastik dan lain-lain dengan konstruksi berbeda dari konstruksi bangunan pada umumnya. Mike menyatakan bangunan tersebut nantinya akan menjadi hunian yang sehat bagi manusia dan tidak akan menghasilkan limbah dan sampah, sehingga tidak akan berpengaruh buruk terhadap ekologi di Pulau Kenawa.

Bangunan yang akan dibangun dalam waktu empat minggu itu akan menjadi eartship kedua di dunia. Satu eartship yang telah dibangun Mike sebelumnya berlokasi di New Mexico. Selain bebas sampah dan limbah, tanpa perangkat air condisioner (AC), suhu dalam ruangan bangunan tetap bisa bertahan di angka 18 derajat celcius, meski suhu rata-rata di Pulau kenawa mencapai 32 – 35 derajat celcius. Saya jadi tidak sabar menerima ajakan Mike untuk kembali datang setelah empat minggu kedepan untuk menyaksikan langsung eartship yang ‘luar biasa’ itu.

Ditengah kesibukan acara pembukaan, seorang bule lain, tinggi kurus, bertopi dan kacamata hitam dengan gagang putih, terlihat mondar mandir disekitar pulau sambil membawa karung yang hampir penuh. Pada kesempatan lain, Ia terlihat menenteng kantong plastik besar berwarna hitam, berjalan berkeliling disekitar pulau. Ia tidak terlalu menghiraukan acara pembukaan kegiatan pelatihan yang sedang berlangsung. Padahal ia adalah salah satu peserta kegiatan itu. Matanya, sambil berjalan, bahkan jarang terlihat memandang lurus kedepan, lebih banyak menunduk meneliti setiap jengkal tanah yang dilalui. Begitu mendapati sampah jenis apapun, Ia langsung memungutnya, memasukkan kedalam kantong plastik lalu segera berjalan lagi menyusuri area lain di sekitar pulau.

Jose, bule Portugal pemungut sampah
Pria Bule tersebut adalah Jose. Selain arsitek, Jose adalah penghoby petualangan dan pecinta lingkungan. Selama satu setengah bulan di Negara ini, sebelum ke Kenawa, Jose sudah berkeliling Sumatera, Bali, Nias dan sejumlah tempat lain. Dan ia selalu memungut sampah disetiap tempat yang dikunjungi. Jose mengaku bermimpi seluruh tempat di dunia terbebas dari sampah, dengan demikian manusia dan spesies lain yang tinggal di bumi ini bisa hidup sehat dan berkualitas. Itu dibuktikan, ketika mendarat di Kenawa sehari sebelumnya, Ia langsung menenteng karung dan kantong plastik berkeliling memungut sampah.

Menurut dia, sampah terutama sampah plastik merupakan persoalan serius yang menghantui dunia, termasuk Indonesia. Semua pihak, katanya, harus ikut bergerak, ambil bagian memecahkan persoalan itu. Jose mengaku, kehadirannya di Kenawa, bersama puluhan arsitek lain, menunjukkan kepada dunia bahwa persoalan sampah sangat mungkin dituntaskan dengan kepedulian terhadap kebersihan dan membangun infrastruktur yang ramah lingkungan untuk menciptakan kehidupan dan pariwisata yang berkualitas dimasa depan.

“Saya bermimpi Pulau Kenawa Indonesia akan menjadi contoh dalam pengembangan pariwisata ramah lingkungan yang berkelanjutan. Dengan tetap menjaga alam dan berkomitmen untuk kelestariannya, alam akan memberikan manfaat dan mendatangkan banyak wisatawan ke Negeri Indonesia yang sangat indah ini,”.

Good luck Jose, mimpimu juga mimpi kami di Indonesia.(EZ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi SUMBAWA KINI menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di www.sumbawakini.com . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi SUMBAWA KINI akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.sumbawakini.com