Dianggap Lalai, Yahya Soud Divonis 1 Tahun - Sumbawa Kini

Breaking News

Home Top Ad

Space Available (1170 x 250)

Jumat, 23 September 2016

Dianggap Lalai, Yahya Soud Divonis 1 Tahun


Yahya Soud
Mataram (SumbawaKini) - Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek pembangunan rumah adat Pemerintah Daerah Sumbawa Barat tahun 2014, Yahya Soud, divonis 1 (satu) tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan oleh majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mataram, Jumat pagi (23/9).

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa yang meminta dihukum 1,5 tahun. Yahya dianggap terbukti melanggar pasal 3 undang-undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.  Ia dianggap lalai karena tidak menyerahkan lokasi pekerjaan pada awal kontrak kepada pihak kontraktor pelaksana proyek pembangunan rumah adat, CV Agung Sembada. Jaksa penuntut umum menyatakan pikir - pikir.

Sedangkan Yahya Soud kepada SumbawaKini usai persidangan, menyatakan menerima vonis tersebut. "Alhamdulillah hari ini akhirnya ada kepastian hukum setelah sekian lama melalui proses yang panjang dan melelahkan," katanya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Yahya Soud, Indi Suryadi yang dihubungi terpisah, menyatakan  fakta-fakta di persidangan dan vonis yang dijatuhkan majelis hakim membuktikan bahwa apa yang dituduhkan terhadap kliennya telah melakukan korupsi tidak benar. 

"Fakta persidangan membuktikan bahwa secara pribadi klien saya tidak memperkaya diri sendiri dalam kapasitasnya selaku KPA dan PPK proyek tersebut. Itu diperkuat oleh vonis majelis hakim yang dibacakan hari ini," ujar Indi. 

Yang perlu diketahui masyarakat, sambung Indi, bahwa kewajiban pengembalian uang muka proyek sesuai hasil audit BPK, senilai Rp 570 juta, setelah dipotong progress pekerjaan sebanyak 5,24 persen (Rp. 103,752 juta) tersisa Rp 385.639,689 juta,  dilakukan oleh kontraktor pelaksana CV Agung Sembada atas nama Teguh Maramis, bukan oleh kliennya.

"Ini penting saya jelaskan karena selama ini seolah-olah klien kami yang telah mengambil kemudian mengembalikan uang muka tersebut. Sehingga kesannya klien kami telah memperkaya diri sendiri, padahal itu tidak benar. Saya tegaskan, uang muka itu dikembalikan ke kas daerah KSB oleh CV Agung Sembada atas nama Teguh Maramis," cetusnya. 

Proyek pembangunan rumah adat merupakan proyek Pemda KSB tahun 2014 senilai Rp 2 miliar yang dimenangkan oleh PT Agung Sembada. Dalam perjalanannya, CV Agung Sembada sampai akhir masa kontrak (Desember 2014), tidak berhasil menyelesaikan pekerjaan. Bahkan progress yang dicapai hanya 5,24 persen, sementara perusahaan itu telah mencairkan uang muka senilai Rp 570 juta.  
Pihak Kejaksaan Negeri Sumbawa kemudian menetapkan Yahya Soud yang menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek rumah adat sebagai tersangka. Yahya Soud sempat mengajukan pra peradilan atas penetapan status tersangka tersebut, meski kemudian gugur karena Kejaksaan melimpahkan kasusnya ke Pengadilan Tipikor. 

Sementara Direktur CV Agung Sembada, Teguh Maramis, pelaksana proyek pembangunan rumah adat, juga ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan dan saat ini masih menjalani proses hukum.(EZ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi SUMBAWA KINI menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di www.sumbawakini.com . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi SUMBAWA KINI akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.sumbawakini.com